Rabu, 19 Januari 2011

LITOSFER






                                                                                                   




A.  Lapisan Kerak Bumi
Struktur lapisan penyusun Bumi mirip struktur pada lapisan penyusun telur. Cangkang atau kulit telur mewakili lapisan kulit atau kerak Bumi (crust). Putih telur mewakili selubung Bumi (mantle). Kuning telur mewakili inti Bumi (core). Lapisan kerak Bumi di dasar samudra lebih tipis (5–7 km) dibandingkan lapisan kerak Bumi di bawah daratan benua (30–80 km). Lapisan selubung Bumi berada di bawah lapisan kerak bumi dengan kedalaman mencapai 2.900 km. Lapisan atas dari selubung Bumi bersifat lembek, bersuhu lebih dari 2.000° C, dan dapat mengalir. Lapisan bawah dari selubung Bumi bersifat padat dan tegar akibat tekanan yang besar dari dalam Bumi. Batas antara lapisan kerak Bumi dan selubung Bumi (mantle) ditemukan oleh ilmuwan Kroasia, Andrija Mohorovicic pada tahun 1909. Inti Bumi (core) merupakan bagian paling dalam dari Bumi yang memiliki suhu lebih dari 3.000° C tersusun oleh material nikel besi. Inti Bumi terbagi menjadi dua bagian, yaitu inti luar bersifat cair dan inti dalam bersifat lebih padat.

                  Gb. Struktur Lapisan Bumi


BATUAN PEMBENTUK KULIT BUMI

a. Batuan Beku
Batuan ini terbentuk karena magma yang mendingin dan menjadi keras. Batuan beku terjadi terutama di sepanjang tepi lempeng dan pada daerah panas yang menghasilkan magma.

Penggolongan Batuan Beku
Batuan beku terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, sebagian besar terdiri atas silika (SIO2).
Penggolongan batuan beku didasarkan pada ciri-ciri warna, kepadatan, komposisi mineral, dan teksturnya. Perbedaan warna terutama disebabkan oleh adanya mineral, sementara perbedaan tekstur (ukuran butir kristal) dapat disebabkan oleh perbedaan laju pendinginan oleh magma.
1) Menurut warnanya batuan beku dibedakan menjadi:
a) Batuan ultramafik, yaitu batuan yang banyak mengandung mineral berwarna.  Contoh: batuan peridotit,
yaitu batuan yang membentuk selubung Bumi.
b) Batuan mafik, yaitu batuan yang berwarna gelap. Contoh: batuan basalt dan batuan gabro.
c) Batuan felsik, yaitu batuan yang berwarna muda. Contoh: batuan granit dan riolit.

2) Menurut tekstur atau ukuran butirnya batuan beku dibedakan menjadi:
a) Batuan Intrusi/Plutonik
Yaitu batuan yang terbentuk karena pendinginan magma melalui proses yang lambat, sehinggasebelum mengeras kristal mineralnya memiliki waktu untuk tumbuh. Biasanya butirannya kasar.
b) Batuan Ekstrusi/Vulkanik
Yaitu batuan yang terbentuk karena magma yang keluar ke permukaan proses pendinginannyaL ebih cepat dan kristalnya hanya memiliki sedikit waktu untuk tumbuh. Biasanya butirannya halus.

b. Batuan Endapan (Sedimen)
Batuan endapan berasal dari batuan beku yang muncul di permukaan Bumi. Karena adanya tenaga angin dan air, batuan beku dirombak menjadi material-material yang lebih kecil, kemudian diendapkan di dasar samudra. Di samudra, lama-kelamaan
endapan tersebut memadat dan menjadi batuan endapan.

Penggolongan Batuan Sedimen
Penggolongan batuan sedimen/endapan berdasarkan batuan yang membentuknya. Batuan sediment digolongkan menjadi:
1) Batuan Sedimen Klastik
Yaitu batuan yang terbentuk karena disintegrasi batuan asal melalui proses pelapukan. Contoh: tuff.
2) Batuan Sedimen Organik
Yaitu batuan yang berasal dari aktivitas binatang dan tumbuhan. Contoh: batu bara yang terbentuk daritumbuhan.
3) Batuan Sedimen Kimiawi
Yaitu batuan yang terbentuk karena proses kimiawi.

c. Batuan Malihan (Metamorf)
Batuan malihan terjadi karena adanya tekanan dan suhu yangtinggi. Sehingga memampatkan dan meremukkan batuan yang sudah ada sebelumnya, baik itu yang berupa batuan beku ataupun batuan endapan.
Batuan metamorf terbentuk karena adanya perubahan tekanan berat, temperatur tinggi, dan gabungan dari keduanya.
Berikut ini adalah beberapa contoh batuan metamorf.
1) Batu marmer yang berasal dari batu kapur.
2) Batu kuarsa yang berasal dari batuan pasir.
3) Batu bara keras/grafit yang berasal dari batu bara lunak

B. Tenaga Endogen
Tenaga endogen adalah tenaga-tenaga yang bekerja di dalam bumi. Tenaga ini bersifat membangun karena membentuk kenampakan-kenampakan alam yang baru. Aktivitas tenaga endogen meliputi vulkanisme, tektonisme, dan seisme.
1. Tektonisme dan Dampaknya
Tektonisme adalah tenaga yang berasal dari dalam Bumi yang menyebabkan terjadinya dislokasi (perubahan letak) patahan dan retakan pada kulit bumi dan batuan. Tenaga tektonik dibedakan menjadi dua
sebagai berikut.
a. Gerak Epirogenesa
Gerak epirogenesa adalah gerakan tenaga endogen yang sangat lambat dan meliputi areal yang sangat luas. Apabila permukaan Bumi bergerak turun, permukaan laut tampak seolah-olah naik sehingga disebut gerak epirogenesa positif. Contohnya terjadi di Kepulauan Maluku dan Banda. Sebaliknya, apabila permukaan Bumi naik sehingga tampak seolah-olah permukaan air laut turun disebut gerak epirogenesa
negatif. Contohnya terjadi di Pulau Buton dan Timor.
b. Gerak Orogenesa
Gerak orogenesa adalah gerakan tenaga endogen yang relatif cepat dan meliputi wilayah yang sempit. Akibatnya, akan terbentuk pegunungan. Contohnya pegunungan Bukit Barisan (Sumatra), Pegunungan Seribu (Jawa), dan Pegunungan Verbeek (Sulawesi). Selain itu, gerakan ini juga berpengaruh terhadap terbentuknya lipatan, patahan, dan retakan.
1) Lipatan
Lipatan disebabkan oleh gerakan dari dalam Bumi akibat tekanan yang besar dan temperature yang tinggi sehingga membuat sifat batuan menjadi cair, liat, atau plastis. Hal itu menyebabkan batuan akan terlipat apabila ada dorongan tenaga tektonik. Bagian puncak dari lipatan disebut antiklinal dan bagian lembah
disebut sinklinal.
2) Patahan
Patahan terjadi ketika kulit Bumi yang bersifat padat dan keras mengalami retak atau patah pada saat terjadi gerakan orogenesa. Bentang alam yang disebabkan oleh
Patahan adalah gawir dan triagle foc.

        Gb. Bentuk Patahan

c. Dampak Tektonisme
Tektonisme dapat berdampak positif dan negatif bagi manusia. Dampak negatifnya adalah timbulnya bencana alam seperti erosi, longsoran, dan sedimentasi. Hal tersebut mengakibatkan kerugian harta benda dan nyawa. Dampak positifnya antara lain ditemukannya kantong-kantong minyak dan gas alam yang ditemukan pada lipatan-lipatan dan sesar-sesar batuan yang kondisinya memenuhi syarat. Contohnya terdapat di sisi utara maupun selatan rangkaian pegunungan yang melintasi Pulau Jawa. et, sesar, lembah, fault, rift, horst, graben, dan basin (cekungan struktural).

2. Vulkanisme dan Dampaknya
Vulkanisme adalah semua gejala alam yang terjadi akibat adanya aktivitas magma. Magma merupakan batuan cair pijar bertemperatur tinggi yang terdapat di dalam kulit Bumi, terbentuk dari berbagai mineral dan gas yang terlarut di dalamnya. Magma dapat bergerak ke segala arah. Jika gerakan magma tetap di bawah
permukaan Bumi disebut intrusi magma. Magma yang bergerak dan mencapai permukaan Bumi disebut ekstrusi magma.
a. Intrusi Magma
Penyusupan magma yang tidak sampai permukaan Bumi setelah membeku akan membentuk kenampakan sebagai berikut.
1) Batolit adalah batuan beku yang terbentuk di dalam dapur magma karena penurunan suhu yang lambat.
2) Lakolit adalah magma yang menyusup di antara lapisan batuan yang menyebabkan lapisan batuan di atasnya terangkat sehingga menyerupai lensa cembung, sementara permukaan di atasnya tetap rata.
3) Keping intrusi atau sill adalah lapisan magma yang tipis menyusup di antara lapisan batuan.
4) Intrusi korok atau gang adalah batuan hasil intrusi magma yang memotong lapisan litosfer dengan bentuk pipih atau lempeng.
5) Apofisa adalah semacam cabang dari intrusi gang, tetapi lebih kecil.
6) Diatrema adalah batuan yang mengisi pipa letusan, berbentuk silinder mulai dari dapur magma sampai ke permukaan Bumi.
b. Ekstrusi Magma
Proses ekstrusi magma dapat menyebabkan terjadinya gunung api. Ekstrusi magma dapat terjadi di daratan maupun lautan. Berdasarkan bentuk lubang keluarnya magma, terdapat tiga macam ekstrusi magma sebagai berikut.
1) Ekstrusi linier, yaitu magma yang keluar melalui celah-celah retakan atau patahan yang memanjang sehingga membentuk deretan gunung berapi. Contohnya deretan gunung api di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
2) Ekstrusi areal, yaitu magma yang dekat dengan permukaan bumi sehingga magma keluar meleleh di beberapa tempat pada suatu areal tertentu. Misalnya di Yellowstone National Park di Amerika Serikat.
3) Ekstrusi sentral, yaitu magma yang keluar melalui sebuah lubang (saluran magma) dan membentuk gunung-gunung yang terpisah. Misalnya Gunung Krakatau dan Gunung Vesuvius.

     Gambar Penampang Gunung api (Intrusi Magma)

Berdasarkan sifat erupsi dan bahan yang dikeluarkannya, ada tiga macam gunung berapi sentral sebagai berikut.
1) Gunung api perisai. Gunung api ini terbentuk karena magma yang keluar sangat encer sehingga membentuk lereng sangat landai dan melebar. Contohnya Gunung Maona Loa dan Maona Kea di Hawaii.
2) Gunung api maar. Gunung api ini terbentuk akibat adanya letusan eksplosif dengan material yang sedikit karena sumber magmanya sangat dangkal dan sempit. Di bekas kawahnya terbentuk cekungan yang kadang-kadang terisi air dan membentuk danau. Contohnya Danau Klakah di Lamongan dan Danau Eifel di Prancis.
3) Gunung api strato. Gunung api ini lerengnya berlapis-lapis karena terbentuk dari erupsi campuran antara eksplosif dan efusif yang bergantian secara terus-menerus. Gunung ini banyak ditemukan di Indonesia. Contohnya Gunung Merapi, Kelud, Merbabu, dan Semeru.

Berdasarkan kekuatan letusannya, erupsi gunung api dibedakan sebagai berikut.
1) Erupsi eksplosif, yaitu erupsi atau letusan yang menyebabkan ledakan akibat tekanan gas magmatis yang sangat kuat. Material yang dikeluarkan bersifat padat dan cair.
2) Erupsi efusif, yaitu erupsi atau letusan yang tidak menimbulkan ledakan karena tekanan gas kurang kuat. Material yang dikeluarkan adalah material cair berupa lava dan sedikit material padat yang berukuran kecil.
B.Tipe Letusan Gunung Api
Tipe letusan gunung api sangat bervariasi yang dipengaruhi oleh derajat kekentalan magma, tekanan gas magnetik, dan kedalaman dapur magma. Tipe-tipe letusan gunung api sebagai berikut.
1) Tipe Hawaii terjadi karena lava yang cair encer, dapur magma sangat dangkal, dan tekanan gas yang rendah. Tipe ini akan membentuk gunung api perisai.
2) Tipe Stromboli terjadi karena magma yang cair encer, dapur magma dangkal, lebih dalam dari tipe Hawaii, dan tekanan gas sedang. Letusan tersebut mengeluarkan bom dan lapilli. Letusannya tidak kuat tetapi terjadi secara terus-menerus. Contohnya Gunung Stromboli, Vesuvius, dan Gunung Raung di Jawa Timur.
3) Tipe Vulkano terjadi karena magma yang cair kental. Letusannya terdiri atas embusan abu vulkanik yang membentuk awan disertai lemparan bom dan lapilli yang diikuti aliran lava. Contohnya letusan di Gunung Vesuvius Etna, Bromo, dan Semeru.
4) Tipe Perret, terjadi karena magma yang cair kental, tekanan gas sangat tinggi dan dapur magma sangat dalam. Tipe letusan ini sangat berbahaya dan sangat merusak lingkungan. Tipe Perret disebut juga tipe plinian. Contohnya letusan Gunung Krakatau dan Gunung Vesuvius.
5) Tipe Merapi letusannya berupa embusan gas dari celah sumbat lava yang retak berupa awan panas yang meluncur sepanjang jalur di lereng gunung itu. Awan panas itu dinamakan nuee ardente. Bongkahan batuan yang dikeluarkan masih panas dan meluncur pula di lereng gunung dan dinamakan lawina pijar.
6) Tipe St. Vincent terjadi dengan kekuatan letusan yang lebih kuat dari Merapi karena tekanan gasnya lebih tinggi dan kedalaman dapur magmanya sedang. Contohnya Gunung St. Vincent dan Gunung Kelud pada tahun 1919.
7) Tipe Pelee letusan tipe ini biasanya terjadi jika puncak gunung api terdapat sumbatan kawah yang bentuknya seperti jarum sehingga menyebabkan tekanan gas menjadi bertambah besar. Apabila sumbatan kawah tidak kuat menyebabkan gunung tersebut meletus. Contohnya Montagne Pelee di Pulau Martinique, Amerika Tengah.

Material yang dikeluarkan saat gunung api meletus bermacam-macam berupa material padat, cair, dan gas. Berikut ini pembagiannya.
1) Material padat (efflata) terdiri atas bom (batu-batu besar), lapilli (berupa kerikil), pasir, dan batu apung. Menurut asalnya, efflata dibedakan menjadi dua, yaitu efflata allogen (berasal dari batu-batu di sekitar kawah yang terlempar saat terjadi letusan) dan efflata autogen (pyroclastica) adalah material yang berasal dari magma itu sendiri.
2) Material cair, yaitu magma cair yang keluar dan meleleh dari lubang kawah.
a) Lava adalah magma yang keluar dan meleleh pada lereng gunung api.
b) Lahar panas adalah campuran magma dan air yang mengalir sebagai lumpur panas.
c) Lahar dingin adalah material di puncak gunung yang terbawa aliran air saat hujan turun.
3) Material gas atau ekshalasi terdiri atas solfatar (berbentuk gas belerang/H2S), fumarol (berbentuk uap air/H2O), dan mofet (berbentuk gas asam arang/CO2).

Gejala-gejala pascavulkanik yang timbul setelah gunung api meletus sebagai berikut.
1) Munculnya ekshalasi atau sumber gas, contohnya di Dieng, Jawa Tengah.
2) Keluarnya mata air panas, contohnya di Cimelati, Jawa Barat.
3) Mata air mahdani, yaitu mata air panas yang mengandung mineral contohnya, mineral belerang. Contohnya
di Maribaya dan Ciater (Jawa Barat), Baturaden dan Dieng (Jawa Tengah).
4) Geyser, yaitu sumber mata air panas yang memancar secara berkala. Contohnya di Yellowstone National Park di Amerika Serikat.

C. Dampak Vulkanisme
Vulkanisme memberikan dampak positif dan negatif bagi kehidupan.
 Dampak positif vulkanisme sebagai berikut.
1) Menyuburkan tanah.
2) Menghasilkan bahan galian seperti belerang, pasir, batu bangunan, tras, dan batu apung.
3) Sebagai objek wisata.
4) Merupakan daerah tangkapan air hujan.
Dampak negatif vulkanisme sebagai berikut.
1) Pada waktu terjadi letusan, semburan lapilli, pasir panas, dan awan panas dapat merusak bangunan, lahan pertanian, tanaman, bahkan hewan di sekitar gunung api. Abu vulkanik yang menyebar secara luas mengganggu penerbangan. Aliran lava dan lahar panas dapat merusak daerah yang dilaluinya.
2) Gas beracun yang keluar dari gunung api dapat membunuh makhluk hidup di sekitarnya. Contohnya gas beracun yang keluar pada saat letusan kawah Timbangan dan Sinila tahun 1979 yang mengakibatkan terbunuhnya 149 penduduk.
3) Material yang menumpuk di puncak dan lereng-lereng gunung akan menjadi lahar dingin saat hujan turun dan dapat merusak daerah yang dilaluinya seperti lahan pertanian, rumah, dan jalan.

3. Seisme (Gempa) dan Dampaknya

Gempa terjadi akibat getaran kulit bumi yang disebabkan oleh kekuatan dari dalam Bumi.
a. Jenis-Jenis Gempa
Berdasarkan peristiwa yang menimbulkannya, gempa dibedakan sebagai berikut.
1) Gempa tektonik, yaitu gempa yang diakibatkan gerakan tektonisme berupa patahan atau retakan. Gempa ini bisa sangat kuat dan meliputi wilayah yang luas.
2) Gempa vulkanik, yaitu gempa yang terjadi sebelum atau saat gunung api meletus. Gempa ini hanya terasa di sekitar gunung berapi sehingga tidak terlalu kuat dibanding gempa tektonik.
3) Gempa runtuhan, yaitu gempa yang terjadi karena runtuhnya atap gua atau terowongan tambang. Gempa ini relatif lemah dan hanya terasa di sekitar tempat runtuhan terjadi.

Berdasarkan bentuk episentrumnya, gempa dibedakan sebagai berikut.
1) Gempa linier, yaitu gempa yang episentrumnya berupa garis.
2) Gempa sentral, yaitu gempa yang episentrumnya berbentuk titik.
Berdasarkan kedalaman pusat gempa atau hiposentrum.

Berdasarkan kedalaman pusat gempa atau hiposentrum.
1) Gempa dalam, jika hiposentrumnya terletak 300–700 km di bawah permukaan Bumi.
2) Gempa intermidier, jika hiposentrumnya 100–300 km di bawah permukaan Bumi.
3) Gempa dangkal, jika hiposentrumnya kurang dari 100 km di bawah permukaan Bumi.

Berdasarkan jarak episentrumnya, gempa dibedakan sebagai berikut.
1) Gempa setempat, jika jarak episentrum dari tempat gempa terasa kurang dari 1.000 km.
2) Gempa jauh, jika jarak episentrum dari tempat gempa terasa sekitar 10.000 km.
3) Gempa sangat jauh, jika jarak episentrum dari tempat gempa terasa lebih dari 10.000 km.

b. Dampak Gempa
Gempa berdampak langsung pada deformasi lapisan Bumi. Hal tersebut bergantung pada arah dan kekuatan gempa. Semakin besar kekuatan gempa, akan menimbulkan kerusakan yang berat di permukaan Bumi. Banyak bangunan hancur dan menimbulkan korban yang besar.
Gempa dengan kekuatan besar yang terjadi di dasar laut dapat memicu terjadinya tsunami. Contohnya tsunami yang melanda Aceh dan Sumatra Utara, serta beberapa negara di Asia telah menelan korban sangat besar.

C.      Tenaga Eksogen

Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar bumi. Tenaga ini bersifat merombak bentuk permukaan Bumi hasil dari tenaga endogen. Misalnya perbukitan yang terkikis oleh angin akan mengubah bentuk permukaan Bumi yang ada. Secara umum tenaga eksogen berasal dari tiga sumber, yaitu atmosfer (perubahan
suhu dan angin), air (aliran air, hujan, gelombang laut, dan gletser), serta organisme (jasad renik, tumbuhan, hewan, dan manusia).

1. Pelapukan (Weathering)
Pelapukan merupakan proses penghancuran batuan dari bentuk gumpalan menjadi butiran yang lebih kecil, bahkan menjadi hancur atau larut dalam air. Pelapukan dibagi menjadi tiga sebagai berikut.
a. Pelapukan Mekanis
Pelapukan mekanis atau pelapukan fisis merupakan proses penghancuran batuan secara fisis tanpa mengalami perubahan kimiawi. Pelapukan ini antara lain disebabkan oleh pembekuan air, akibat pemuaian, perubahan suhu yang tiba-tiba, dan perbedaan suhu yang besar antara siang dan malam.
b. Pelapukan Kimiawi
Pelapukan kimia adalah pelapukan batuan yang terjadi akibat peristiwa kimia. Pelapukan ini antara lain disebabkan oleh air hujan yang mengandung senyawa H2O dan CO2 sehingga memiliki daya larut yang besar, terutama bila mengenai batuan kapur atau karst. Hasil pelapukan di daerah karst menghasilkan
karren, ponor, sungai bawah tanah, stalaktit, stalakmit, dan gua kapur.
c. Pelapukan Biologis
Pelapukan biologis atau pelapukan organis adalah pelapukan batuan yang disebabkan oleh makhluk hidup, misalnya oleh tumbuhan, hewan, dan manusia. Contohnya cendawan atau lumut yang menutupi batuan dan mengisap makanan dari batu, lama-kelamaan bisa menghancurkan batuan tersebut.

2. Erosi

Erosi adalah proses pengikisan batuan yang dilakukan oleh air, angin, dan gletser. Air hujan mampu mengikis tanah gundul dan mengalir ke sungai. Air sungai juga dapat mengikis bagian tepi maupun dasar sungai. Gelombang laut dapat mengikis tebing dan batu karang sedikit demi sedikit di tepi pantai. Pengikisan batuan oleh air laut disebut abrasi. Pengikisan batuan oleh angin disebut juga korasi. Embusan angin dengan material-material yang diangkutnya terutama di daerah gurun akan menabrak gunung-gunung batu sehingga membentuk kenampakan-kenampakan baru. Sementara itu, erosi oleh gletser disebut erosi glasial. Aliran gletser mampu mengikis palung sungai yang berbentuk V menjadi berbentuk U.
Alur sungai memiliki kenampakan yang senantiasa berubah, misalnya bagian tepi yang semakin lebar,maupun pengendapan di dasar sungai sehingga semakin dangkal.

3. Sedimentasi
Sedimentasi adalah peristiwa pengendapan material batuan yang telah diangkut oleh tenaga air, angin, dan gletser. Pengendapan material bisa terjadi di sungai, danau, dan laut. Berikut ini beberapa jenis pengendapan batuan.
a. Sedimen fluvial, jika pengendapan terjadi di sungai.
b. Sedimen limmis, jika pengendapan terjadi di danau.
c. Sedimen marin, jika pengendapan terjadi di laut.

Beberapa bentang alam yang terbentuk dari proses sedimentasi sebagai berikut.
a. Delta
Delta terbentuk di muara sungai yang lautnya dangkal dan sungainya membawa banyak bahan endapan. Daerah ini biasanya berupa lahan yang subur. Berdasarkan bentuk fisiknya, ada beberapa
bentuk delta, yaitu delta kaki burung, delta busur segitiga (kipas), dan delta kapak.
b. Tanggul Alam
Tanggul alam terbentuk di tepi sungai akibat timbunan material yang terbawa saat terjadi banjir. Material tersebut terendapkan di kanan kiri sungai. Timbunan tersebut semakin tinggi menyerupai tanggul.
c. Meander
Meander terbentuk melalui proses yang terjadi di bagian dalam maupun luar lekukan sungai. Pada bagian sungai yang alirannya cepat akan terjadi pengikisan, sedangkan di bagian lain yang alirannya lamban akan terjadi pengendapan. Oleh karena proses ini berlangsung terus-menerus, akibatnya terbentuk alur sungai yang berkelok-kelok.
d. Danau Tapal Kuda (Oxbow Lake)
Oxbow lake terbentuk akibat proses sedimentasi yang terus-menerus di meander sungai. Akibat proses pengendapan, material sedimen akan memotong alur sungai sehingga menjadi lurus. Cekungan  alur sungai yang terpotong akan membentuk genangan air yang menjadi danau. Oleh karena bentuknya seperti tapal kuda disebut danau tapal kuda.
e. Gumuk Pasir
Gumuk pasir terbentuk akibat bentang alam hasil pengendapan oleh angin. Tiupan angin yang kuat di daerah gurun maupun pantai akan membentuk gumuk pasir. Contohnya gumuk pasir di sepanjang pantai barat Belanda yang menjadi tanggul laut negara itu dan gumuk pasir di pantai Parangtritis, Yogyakarta.





























1 komentar:

  1. Waw ..
    sangat lengkap. Terima kasih.
    Ini sangat membantu saya untuk menambah ilmu sekaligus bahan materi untuk bab 1 di semester 2 ini. Terima kasih ^_^

    BalasHapus